Selasa, 30 April 2013

Tugas Semester 4


PERKEMBANGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDHU-BUDHA DI INDONESIA


STANDAR KOPETENSI
1.      Menganalisis Masuk dan Berkembangnya Kebudayaan Hindu-Budha Di Indonesia
KOMPETENSI DASAR
1.      Menganalisis Pengaruh Perkembangan Kebudayaan   Hindu-Buddha di Indonesia
INDIKATOR
1.      Mengidentifikasikan teori masuk dan berkembangnya kebudayaan  Hindu-Buddha di Indonesia

 
Teori Masuk dan Berkembangnya Kebudayaan Hindhu-Budha di Indonesia
                Beberapa ahli tentang proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Hipotesis-hipotesis tersebut dibagi ke dalam dua kelompok besar yaitu teori kolonisasi dan teori arus balik.
1.      Teori Kolonisasi
          Teori ini berusaha menjelaskan proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia dengan menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan pengaruhnya di Indonesia. Teori Kolonisasi dibagi sebagai berikut :
a.       Waisya
Proses terjadinya hubungan antara India dan Indonesia karena adanya hubungan perdagangan, sehingga orang-orang India yang datang ke Indonesia sebagian besar adalah para pedagang. Perdagangan yang terjadi pada saat itu menggunakan jalur laut dan teknologi perkapalan yang masih banyak tergantung pada angin musim.
Ksatria
Ksatria terletak pada kenyataan bahwa semangat berpetualang pada saat itu umumnya dimiliki oleh para Ksatria (keluarga kerajaan).
c.       Brahmana
Tradisi India yang menyebar ke Indonesia dibawa oleh golongan Brahmana.

1.      Teori Arus Balik
Pertama kali datang ke Indonesia adalah mereka yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Buddha, yaitu para intelektual yang ikut menumpang kapal-kapal dagang. Setelah tiba di Indonesia, mereka menyebarkan ajarannya. Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannya tersebut. Pada perkembangan selanjutnya banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berkunjung dan belajar agama Hindu-Buddha di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya kepada masyarakat Indonesia yang lain.
Bukti-bukti dari pendapat di atas adalah adanya prasasti Nalanda yang menyebutkan bahwa Balaputradewa (raja Sriwijaya) telah meminta kepada raja di India untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya. Permintaan raja Sriwijaya itu ternyata dikabulkan. Dengan demikian, setelah para tokoh atau pelajar itu menuntut ilmu di sana, mereka balik ke Indonesia. Merekalah yang selanjutnya menyebarkan pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia.

Project for Students
1.    Identifikasikan 5 perbedaan teori yang berdasarkan Waisya, Ksatria dan Brahmana ?
2.    Jelaskan perbedaan ciri-ciri candi yang berlanggam Jawa Tengah dan Jawa Timur ?
3.    Sebutkan contoh masing-masing candi?

Bentuk Kebudayaan Hindu-Budha Yang Masuk Ke Indonesia

Masuknya kebudayaan India ke Indonesia telah membawa pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia. Bangsa Indonesia yang sebelumnya memiliki kebudayaan asli, banyak mengadopsi dan mengembangkan budaya India dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masyarakat tidak begitu saja menerima budaya-budaya baru tersebut. Kebudayaan yang datang dari India mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan yang ada di Indonesia yang disebut dengan proses akulturasi kebudayaan.
Pembuatan candi di India selalu menunjukkan fungsinya yang utama yaitu sebagai tempat peribadatan. Sementara candi-candi yang terdapat di Indonesia tidak hanya difungsikan sebagai tempat peribadatan tetapi juga tempat pemakaman raja atau orang-orang yang dimuliakan. Hal ini tampaknya dipahami oleh masyarakat Indonesia bahwa kata candi berasal dari nama Durga sebagai Dewi Maut yaitu Candika. Dari kata Candika menunjukkan bahwa candi merupakan tempat untuk memuliakan orang yang telah meninggal, khususnya untuk para raja dan orang-orang terkemuka.

Candi-candi yang bercorak agama Hindu-Buddha banyak ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Bali.
1.      Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta
Di Jawa Tengah dan Yogyakarta banyak ditemukan candi, baik yang bercorak Hindu maupun Buddha, di antaranya sebagai berikut.
a.      Candi Borobudur terletak di desa Budur, Magelang. Candi ini bercorak Buddha dan didirikan oleh keluarga Syailendra pada aman Mataram Lama. Bentuk candi Borobudur yang berupa punden berundak-undak menggambarkan adanya akulturasi antara budaya India dengan budaya asli Indonesia dari aman megalithikum. Berdasarkan ajaran Buddha Mahayana, candi Borobudur merupakan Dasya-bodhisatwa-bhumi, artinya tempat mencapai kebuddhaan melalui sepuluh tingkat bodhisatwa.
b.   Candi Mendut dan Candi Pawon terletak tidak jauh dari candi Borobudur. Kedua candi ini bercorak Buddha dan merupakan candi tiga serangkai dengan candi Borobudur. Ketiga candi ini terletak pada satu garis lurus, hal ini sengaja dilakukan berdasarkan ajaran Buddha Mahayana.
c.   Candi Prambanan dikenal pula dengan nama Candi Lorojonggrang, bercorak Hindu dan terletak di desa Prambanan. Relief candi Prambanan mengambil kisah Rama dari kitab Ramayana. Relief ini ditatahkan pada dinding lorong di atas candi pertama, yang mengelilingi kaki candi kedua.
1.      Candi-candi Di Jawa Timur
Jawa Timur juga banyak ditemukan candi, di antaranya sebagai berikut
a.      Candi Badut terletak di Desa Dinoyo, sebelah barat laut Malang, merupakan candi bercorak Hindu yang didirikan sekitar abad ke-8 M. Candi Singhasari terletak di Desa Candinegoro sekitar 10 km dari kota Malang. Candi ini berasal dari abad ke-14 dan dihubungkan dengan Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari.
b.      Candi Jago (Candi Jajaghu) terletak 18 kilometer dari kota Malang. Candi ini merupakan candi bercorak Siwa-Buddha dan bentuknya berundakundak tiga buah serta di halaman candi terdapat beberapa patung Buddha. Candi ini dibangun pada masa Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari.
c.       Candi Panataran terletak sekitar 11 kilometer dari kota Blitar. Candi Panataran merupakan kompleks candi yang terbesar di Jawa Timur dan merupakan candi Siwa.
d.      Candi Singhasari yang terletak 10 kilometer dari kota Malang. Candi sebagai tempat pendarmaan Raja Kertanegara yang digambarkan sebagai Bhairawa (Siwa-Buddha)
2.      Candi di Jawa Barat
Di Jawa Barat ditemukan candi yang bercorak Siwa, yaitu candi Cangkuang terletak di daerah Leles, Garut. Candi ini bentuknya sangat sederhana dan diperkirakan berasal dari abad ke-8 Masehi.
3.      Candi di Luar Jawa
Di luar Jawa terdapat juga candi-candi, seperti berikut ini.
a.       Di pulau Sumatra terdapat beberapa candi seperti Candi Muara Jambi di Jambi yang memperlihatkan corak Buddha Mahayana. Ada juga Candi Muara Takus di Riau (terbuat dari batu bata dan terdiri atas beberapa bangunan stupa).
b.      Di Kalimantan Selatan ditemukan sebuah candi yaitu Candi Agung di daerah Amuntai.
c.       Di Bali terdapat Candi Padas atau Candi Gunung Kawi yang terletak di desa Tampaksiring Kabupaten Gianyar. Candi ini dipahatkan pada dinding batu yang keras dan merupakan tempat pemujaan Raja Anak Wungsu putra terakhir dari Raja Udayana.

Pengaruh kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah dalam berbagai bidang, antara lain sebagai berikut.
1.      Bidang agama, yaitu berkembangnya agama Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum masuk pengaruh India, kepercayaan yang berkembang di Indonesia masih bersifat animisme dan dinamisme.
2.      Bidang politik dan pemerintahan, pengaruhnya terlihat jelas dengan lahirnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia tampaknya belum mengenal corak pemerintahan dengan sistem kerajaan. Sistem pemerintahan yang berlangsung masih berupa pemerintahan kesukuan yang mencakup daerah-daerah yang terbatas. Pimpinan dipegang oleh seorang kepala suku bukanlah seorang raja. Dengan masuknya pengaruh India, membawa pengaruh terhadap terbentuknya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia. Kerajaan bercorak Hindu antara lain Kutai, Tarumanagara, Kediri, Majapahit dan Bali, sedangkan kerajaan yang bercorak Buddha adalah Kerajaan Sriwijaya.
3.      Bidang pendidikan membawa pengaruh bagi munculnya lembaga-lembaga pendidikan. Meskipun lembaga pendidikan tersebut masih sangat sederhana dan mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan. Akan tetapi lembaga pendidikan yang berkembang pada masa Hindu-Buddha ini menjadi cikal bakal bagi lahirnya lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia.
4.      Bidang sastra dan bahasa. Dari segi bahasa, orang-orang Indonesia mengenal bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, seni sastra sangat berkembang terutama pada aman kejayaan kerajaan Kediri.
5.      Bidang seni tari. Berdasarkan relief-relief yang terdapat pada candicandi, terutama candi Borobudur dan Prambanan memperlihatkan adanya bentuk tari-tarian yang berkembang sampai sekarang. Bentuk-bentuk tarian yang digambarkan dalam relief memperlihatkan jenis tarian seperti tarian perang, tuwung, bungkuk, ganding, matapukan (tari topeng).
6.      Seni relief. Pada candi yang kemudian menghasilkan seni pahat. Hiasan pada candi atau sering disebut relief yang terdapat pada candi-candi di Indonesia didasarkan pada cerita-cerita epik yang berkembang dalam kesusastraan yang bercorak Hindu ataupun Buddha.
7.      Seni Arca dan Patung, sebagai akibat akulturasi budaya pemujaan arwah leluhur dengan agama Hindu-Buddha maka beberapa keluarga raja diperdewa dalam bentuk arca yang ditempatkan di candi makam. Arca-arca dewa tersebut dipercaya merupakan lambang keluarga raja yang dicandikan dan tidak mustahil termasuk di dalamnya kepribadian dan watak dari keluarga raja tersebut.
8.      Seni pertunjukan, terutama seni wayang sampai sekarang merupakan salah satu bentuk seni yang masih populer di kalangan masyarakat Indonesia. Seni wayang beragam bentuknya seperti wayang kulit, wayang golek, dan wayang orang. Seni pertunjukan wayang tampaknya telah dikenal oleh bangsa Indonesia sejak aman prasejarah.
9.      Bidang seni bangunan merupakan salah satu peninggalan budaya Hindu-Buddha di Indonesia yang sangat menonjol antara lain berupa candi dan stupa. Selain itu, terdapat pula beberapa bangunan lain yang berkaitan erat dengan kehidupan keagamaan, seperti: ulan dan satra merupakan semacam pesanggrahan atau tempat bermalam para pe iarah; sima adalah daerah perdikan yang berkewajiban memelihara bangunan suci di suatu daerah; patapan adalah tempat melakukan tapa; sambasambaran yang berarti tempat persembahan; meru merupakan bangunan berbentuk tumpang yang melambangkan gunung Mahameru sebagai tempat tinggal dewa-dewa agama Hindu.

UJI KOMPETENSI SISWA
I. Berilah tanda silang (x) pada huruf a,b,c,d, atau e dengan jawaban yang tepat !!!
 1.  Proses masuknya pengaruh Hindu Buddha di Indonesia dibawa oleh para pedagang India yang singgah ke wilayah Indonesia. Pernyataan tersebut merupakan inti dari teori ....
a. Brahmana    d. Kolonisasi
b. Waisya         e. Arus balik  
c. Ksatria
2.    Salah satu bukti yang menunjukkan peran aktif bangsa Indonesia dalam
proses masuknya pengaruh agama Hindu-Buddha di Indonesia, ialah
....
a. Cerita Panji
b. Prasasti Nalanda
c. Candi Borobudur
d. Jaya Prasasti
e. Bahasa Sanskerta
3. Bagunan candi Indonesia memiliki fungsi khas yaitu…
a.       Tempat memuja Dewa
b.      Makam Raja
c.       Tempat istirahat Raja
d.      Pemersatu Raja dan Rakyat
e.       Lambang kebesaran kerajaan

4. Bahasa India yang masuk ke Indonesia adalah…
a.       Urdu                      c. Katagama
            b. Sansekerta                e. Kolari